PAHLAWAN WANITA BERKERUDUNG SYAR'I YANG TERLUPAKAN


"Kartini" yang tidak pernah dimunculkan profilnya. Pengaruhnya dalam dunia pendidikan begitu nyata. Bahkan sekaliber Al-Azhar Mesir pun terinpirasi dari tindakan beliau. Dan, point yang tidak kalah penting, pakaian anggun dengan kerudung yang menutup dada itu sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka.. Allahu Akbar..

Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (1900-1969) adalah salah satu pahlawan wanita milik bangsa Indonesia, yang dengan hijab syar'i-nya tak membatasi segala aktifitas dan semangat perjuangannya.

Rahmah, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru, pejuang pendidikan, pendiri sekolah Islam wanita pertama di Indonesia, aktifis kemanusiaan, anggota parlemen wanita RI, dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika Rahmah bersekolah, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, menjadikan perempuan tidak bebas dalam mengutarakan pendapat dan menggunakan haknya dalam belajar. Ia mengamati banyak masalah perempuan terutama dalam perspektif fiqih tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki, sementara murid perempuan enggan bertanya. Kemudian Rahmah mempelajari fiqih lebih dalam kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi, dan tercatat sebagai murid-perempuan pertama yang ikut belajar fiqih, sebagaimana dicatat oleh Hamka.

Setelah itu, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Lil Banaat (Perguruan Diniyah Putri) di Padang Panjang sebagai sekolah agama Islam khusus wanita pertama di Indonesia. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tekadnya, "Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?"

Rahmah meluaskan penguasaannya dalam beberapa ilmu terapan agar dapat diajarkan pada murid-muridnya. Ia belajar bertenun tradisional, juga secara privat mempelajari olahraga dan senam dengan seorang guru asal Belanda. Selain itu, ia mengikuti kursus kebidanan di beberapa rumah sakit dibimbing beberapa bidan dan dokter hingga mendapat izin membuka praktek sendiri.
Berbagai ilmu lainnya seperti ilmu hayat dan ilmu alam ia pelajari sendiri dari buku. Penguasaan Rahmah dalam berbagai ilmu ini yang ia terapkan di Diniyah Putri dan dilimpahkan semua ilmunya itu kepada murid-murid perempuannya.

Pada 1926, Rahmah juga membuka program pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu rumah tangga yang belum sempat mengenyam pendidikan dan dikenal dengan nama Sekolah Menyesal.

Selama pemerintahan kolonial Belanda, Rahmah menghindari aktifitas di jalur politik untuk melindungi kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Ia memilih tidak bekerja sama dengan pemerintah penjajah. Ketika Belanda menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri didaftarkan sebagai lembaga pendidikan terdaftar agar dapat menerima subsidi dari pemerintah, Rahmah menolak, mengungkapkan bahwa Diniyah Putri adalah sekolah milik ummat, dibiayai oleh ummat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah. Menurutnya, subsidi dari pemerintah akan mengakibatkan keleluasaan pemerintah dalam memengaruhi pengelolaan Diniyah Putri.

Kiprah Rahmah di jalur pendidikan membuatnya mendapatkan perhatian luas. Ia duduk dalam kepengurusan Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Pada 1935, ia diundang mengikuti Kongres Perempuan Indonesia di Batavia. Dalam kongres, ia memperjuangkan hijab sebagai kewajiban bagi muslimah dalam menutup aurat ke dalam kebudayaan Indonesia.
Pada April 1940, Rahmah menghadiri undangan Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh. Ia dipandang oleh ulama-ulama Aceh sebagai ulama perempuan terkemuka di Sumatera.

Kedatangan tentara Jepang di Minangkabau pada Maret 1942 membawa berbagai perubahan dalam pemerintahan dan mengurangi kualitas hidup penduduk non-Jepang. Selama pendudukan Jepang, Rahmah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi perang, Rahmah bersama para ADI mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi penduduk yang kekurangan. Ia memotivasi penduduk yang masih bisa makan untuk menyisihkan beras segenggam setiap kali memasak untuk dibagikan bagi penduduk yang kekurangan makanan. Kepada murid-muridnya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada pada Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk penduduk.
Selain itu, Rahmah bersama para anggota ADI menentang pengerahan perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur untuk tentara Jepang. Tuntutan ini dipenuhi oleh pemerintah Jepang dan tempat prostitusi di kota-kota Sumatera Barat berhasil ditutup.

Terimbas oleh Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang terjun ke politik lebih dahulu, dan dengan kondisi Indonesia yang semakin terpuruk oleh penjajah Jepang, akhirnya Rahmah terjun ke dunia politik. Ia bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Hahanokai di Padang Panjang untuk membantu perjuangan perwira yang terhimpun dalam Giyugun (semacam tentara PETA).

Seiring memuncaknya ketegangan di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya. Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 1944 dan 1945 di Padang Panjang, Rahmah menjadikan bangunan sekolah Diniyah Putri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan.
Hal ini membuat Diniyah Putri mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Jepang. Menjelang berakhirnya pendudukan, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei dan Rahmah duduk sebagai anggota peninjau.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah mendapatkan berita tentang proklamasi kemerdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In, Muhammad Sjafei, Rahmah segera mengibarkan bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Putri. Ia tercatat sebagai orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di sekolahnya menjalar ke seluruh pelosok daerah.

Ketika Komite Nasional Indonesia terbentuk sebagai hasil sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 22 Agustus 1945, Soekarno yang melihat kiprah Rahmah mengangkatnya sebagai salah seorang anggota.

Pada 5 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan dekrit pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pada 12 Oktober 1945, Rahmah memelopori berdirinya TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia memanggil dan mengumpulkan bekas anggota Giyugun, mengusahakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari harta yang dimilikinya. Bersama dengan bekas anggota Hahanokai, Rahmah mengatur dapur umum di kompleks perguran Diniyah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi yang dibentuk di Padang Panjang.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda kedua, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Rahmah meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan mendekam di tahanan wanita di Padang Panjang. Setelah tujuh hari, ia dibawa ke Padang dan ditahan di sebuah rumah pegawai kepolisian Belanda berkebangsaan Indonesia. Ia melewatkan 3 bulan di Padang sebagai tahanan rumah, sebelum diringankan sebagai tahanan kota selama 5 bulan berikutnya.

Pada Oktober 1949, Rahmah meninggalkan Kota Padang untuk menghadiri undangan Kongres Pendidikan Indonesia di Yogyakarta. Ia baru kembali ke Padang Panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada akhir 1949. Rahmah bergabung dengan Partai Islam Masyumi. Dalam pemilu 1955, ia terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Sumatera Tengah. Melalui Konstituante, ia membawa aspirasinya akan pendidikan dan pelajaran agama Islam.

Pada 1956, Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir, Abdurrahman Taj, berkunjung ke Indonesia dan atas ajakan Muhammad Natsir, berkunjung untuk melihat keberadaan Diniyah Putri. Imam Besar tersebut mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Putri, sementara Universitas Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan.

Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Usai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir memenuhi undangan Imam Besar Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, Rahmah mendapat gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar, dimana untuk kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan itu pada perempuan.

Hamka mencatat, Diniyah Putri mempengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kuliyah Qismul Banaat (kampus khusus wanita) di Universitas Al-Azhar. Sejak saat itu Universitas Al-Azhar yang berumur 11 abad membuka kampus khusus wanita, yang diinspirasi dari Diniyah Putri di Indonesia yang baru seumur jagung.

Sebelum kepulangannya ke Indonesia, Rahmah mengunjungi Syria, Lebanon, Jordan, dan Iraq atas undangan para pemimpin negara tersebut.

Sekembalinya dari kunjungan ke berbagai negara di Timur Tengah, Rahmah merasa bahwa Soekarno telah terbawa arus kuat PKI. Ia merasa tidak nyaman berjuang di Jakarta, kemudian memilih kembali pulang ke Padang Panjang. Rahmah melihat bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruannya akan lebih bermanfaat daripada duduk di kursi parlemen sebagai anggota DPR yang sudah dikuasai komunis. Ketika terjadi PRRI di Sumatera Tengah akhir 1958, akibat ketidaksetujuan atas sepak terjang Soekarno, Rahmah ikut bergerilya di tengah rimba bersama tokoh-tokoh PRRI dan rakyat yang mendukungnya.

Pada 1964, ia menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Sejak itu hingga akhir hayatnya, hidupnya didedikasikan kembali sepenuhnya untuk Diniyah Putri.

Tampak pada foto, pahlawan ini mengenakan hijab syar'i dan baju kurung basiba dengan cara yang anggun, elegan dan modern yang menampakkan kecerdasannya dan kemajuannya dalam berpikir.

(LuLu Basmah - diringkas dari berbagai sumber)

BERJAMAAH PENYEBAB KERJA MENJADI LAMBAT


Ketika kita diberikan sebuah pertanyaan, “Manakah yang lebih cepat terselesaikan, antara pekerjaan yang dikerjakan oleh satu orang atau pekerjaan yang dikerjakan oleh tiga orang?”

Tentu kita akan menjawab pekerjaan yang dikerjakan oleh tiga orang akan lebih cepat terselesaikan dibandingkan dengan pekerjaan yang dikerjakan oleh satu orang.

Namun sering kali kita merasakan bahwa sebuah tugas akan lebih cepat terselesaikan jika bekerja sendiri dibandingkan dengan bekerja secara berjamaah (berkelompok). Contoh sederhananya saat mengerjakan tugas makalah. Jika kita menginginkan bekerja secara bersama, maka akan cukup menguras waktu dan tenaga untuk menyelesaikan sebuah makalah.

Ilustrasi ...
Tugas Makalah Laju Reaksi (berhubung saya jurusan kimia, hehe)
Tugas diberikan hari senin, dikumpul hari kamis.
Anggap saja satu kelompok tersebut ada 3 orang (A, B, C)
Senin sore mereka berdiskusi, hasil diskusi :
A = Mencari pengertian Laju reaksi secara umum
B = Mencari faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
C = Mencari penerapan laju reaksi dalam kehidupan sehari-hari
Perjanjian hari rabu pagi dikumpulkan seluruhnya ke A.
Pada hari rabu pagi, A, B sudah menyelesaikan tugasnya, sementara C belum. Alasannya macem-macem, mulai dari Deadline tugas lain, mati lampu, ketiduran dan sebagainya. Kemudian C berjanji akan menyerahkan bagiannya pada sore hari ke A.

Tibalah waktu sore, ternyata C belum juga mencari materi yang diberikan padanya, dengan berbagai alasan.  Karena sudah sore, A ingin pulang. A memberi solusi untuk mengirimkan materi C ke email A, paling lambat jam 20.00 WIB. Maka, C pun menyanggupi.

Jam dinding menunjukkan pukul 22.00 WIB, belum ada juga pesan masuk ke email A. Ia pun memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan C. Pukul 24.00 WIB, tugas makalah mereka selesai.

Pada besok paginya, A menerima email materi dari C. Pesan masuk pada pukul 03.00 WIB. Dengan ucapan "Maaf lama ngirimnya, tadi ada urusan dengan kawan di luar, jadi baru sempat ngerjainnya."

Sementara itu ....
Tokoh X menyelesaikan tugas makalah Laju Reaksi dalam waktu satu malam.

Itulah fakta yang tidak bisa kita tutupi. Dilapangan sering kali kita malah menjadi lambat mengerjakan sesuatu karena dikerjakan secara bersama-sama.
Apa yang menyebabkan hal tersebut? Bukankah pekerjaan yang dikerjakan berjamaah atau bersama-sama itu akan lebih mudah dan cepat selesai? Apa yang salah?

Tentu teori tersebut tidak salah. Sejatinya, pekerjaan yang dikerjakan secara berjamaah akan lebih efektif dan mudah untuk dituntaskan dibandingkan dengan pekerjaan yang dikerjakan sendiri.

Beberapa faktor yang mengakibatkan pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama menjadi lambat :
1. Tidak memahami tugas
Alangkah lebih baik saat diskusi pembagian tugas, didiskusikan apa yang menjadi tugas kita. Agar kita tidak bingung dengan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
2. Lemah kemauan
Ada beberapa orang yang sudah paham dengan apa yang ditugaskan kepadanya. Hanya saja, ia terlalu sepele dan menunda-menunda pekerjaannya. Sehingga sikapnya tersebut memperlambat kerja kawan-kawannya.
3. Konflik Internal
Konflik dalam sebuah kelompok akan membuat suatu pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama akan semakin lambat. Sebab, dengan konflik tersebut akan cenderung merusak pekerjaan, bukan malah membangun dan menyelesaikan tugas. Akan terjadi saling kritik, menjatuhkan, bahkan saling lempar tugas.
4. Tidak terbuka
Sifat tidak terbuka menjadi salah satu penyebab lambatnya kerja kelompok. Misalnya A tidak memiliki keahlian bidang membuat design spanduk. Tapi ia disuruh untuk membuat design spanduk. Tentu pekerjaan A akan sangat lama terselesaikan bahkan cenderung tidak selesai. Dan itu tentu akan memperlambat terselesaikannya sebuah tugas bersama.

Selain itu, ada juga sikap yang membuat pekerjaan yang dikerjaan secara jamaah menjadi lambat. Yaitu sikap yang berlebihan dalam bertindak. Saya bingung bagaimana menjelaskannya. Misalkan seperti ini,
- Sikapnya yang super cepat menyelesaikan tugas membuat orang lain terkesan sangat lambat.
- Sikap geniusnya membuat orang lain merasa sangat bodoh
- Sikap baiknya membuat orang lain merasa sangat jahat
- Sikap amanahnya membuat orang lain merasa menjadi tidak amanah

Padahal sejatinya, semua orang memiliki perannya masing-masing dalam sebuah tugas yang dikerjakan secara berjamaah. Bekerja secara jamaah atau bersama-sama bukan ingin menunjukkan bahwa kita bisa berjalan lebih cepat. Namun, dengan bekerja secara jamaah, kita hendaknya bisa menunjukkan bahwa semua yang terhimpun dalam tugas yang sama dapat berjalan beriringan. Tidak ada yang lebih cepat atau yang lebih lambat. Sebab, inti berjamaah adalah berjalan bersama secara beriringan. Saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

Beberapa keuntungan pekerjaan yang dikerjakan secara berjamaah :
1. Menghemat waktu dan tidak menguras tenaga
Seperti ilustrasi di atas, jika makalah tersebut dikerjakan secara sendiri akan memakan waktu lima jam. Tapi jika dikerjakan secara bersama dalam waktu yang sama oleh tiga orang, pekerjaan tersebut bisa selesai dalam waktu dua atau tiga jam.
2. Menghemat biaya operasional
Seperti ilustrasi di atas, biaya pembuatan makalah bisa sampai Rp. 10.000 - 15.000. Jika dikerjakan oleh tiga orang, maka perorang hanya akan mengeluarkan dana sebesar Rp. 3.000 - 5.000.

Binjai, 26 Maret 2017.
Terinspirasi dari sikap seseorang dan untuk muhasabah diri sendiri dalam menyelesaikan tugas yang dikerjakan secara berjamaah ataupun bersama-sama.

Download Sertifikat Akreditasi Unimed dan Sertifikat Akreditasi Program Studi

DOWNLOAD SERTIFIKAT


Bagi Mahasiswa/i Unimed yang memerlukan sertifikat Akreditasi Unimed dan sertifikat Akreditasi Program Studi. Humas Unimed telah memfasilitasinya dengan menguplod file tersebut ke google drive. Kawan-kawan tinggal download saja.

Silahkan klik DI SINI untuk mendownload sertifikat tersebut.

Jalan-jalan [bareng] Anak Madani

image : negerikuindah.com

Perdana! Tanpa perencanaan matang, main sikat aja, dan akhirnya sampai juga ke tujuan dengan penuh kegembiraan. Sudah lama sebenarnya untuk mengagendakan jalan-jalan, tapi ya nganu ..., banyak rencana, dan gak jadi-jadi. Dan kemarin, pada tanggal 04 – 05 Maret kami sekawanan Madani berhasil keluar dari kota Medan menuju tempat yang memanjakan mata (eaa .. haha).

Oh iya, sebelum saya menjelaskan panjang lebar jalan-jalan kemarin, saya akan menceritakan sedikit tentang “Anak Madani”.

Madani itu nama ataupun identitas dari tempat kami tinggal. Personil di Madani ada 10 varians, aku kenalin satu-satu dulu ya, manatahu kamu kenal salah satunya, (wkkwwk), dimulai dari yang tertua dulu ya, (haha) eh, gak jadi deng, main random sajalah ...

1.    Baharuddin Yusuf Habiby Harahap (anak Unimed-udah lulus-stambuk 2012-anak kimia)
2.    Budy Rahmadani (anak Unimed - masih kuliah - stambuk 2015 - anak PLS)
3.    Putra Rajanami (anak Unimed-masih kuliah – stambuk 2013-anak kimia)
4.    Wayan Asriadi (anak UINSU - masih kuliah – stambuk 2015 – anak Muamalah)
5.    Riski (anak SMKN 1 Percut, masih sekolah – kelas X)
6.    Firdaus (anak Unimed – masih kuliah – stambuk 2013 – anak Kimia)
7.    Ahmad Thalha (anak Unimed – masih kuliah – stambuk 2015 – anak BK)
8.    Jaka (anak Unimed – masih kuliah – stambuk 2015 – anak seni rupa)
9.    Septian (anak Unimed – masih kuliah – stambuk 2015 – anak PLS)
10. Wan Akma (anak Unimed - masih kuliah - stambuk 2015 - anak Kimia)

Itu sekilas perkenalan. Sekarang lanjut ke cerita jalan-jalan kami di episode pertama. Insya allah akan ada episode-episode selanjutnya (Amiin ..). Btw, yang ikut itu hanya tujuh orang, dua yang lainnya berhalangan ikut karena memang agenda wajib untuk pulang kampung. Dan satu orang lagi memang jarang dan bisa dihitung berapa hari dia ada di kostan/kontrakan/pondokan Madani ini. Ini orang anak Lubuk Pakam, jadi dia lebih sering pulang ke rumah dibanding tinggal di Madani. Bukan anak kost tulen lah. (wkkwkw, piss)

Yosh! Saya bingung harus memulai dari mana. Pokoknya jalan-jalan kami itu rempong kali lah. Rute jalannya itu entah kemana-mana, ribet sendiri, wkwkwk, karena faktor kekurangan kereta. (haha).
Oke, dimulai dari rute, kami berangkat dari Medan menuju Binjai, perjalanan dimulai setelah sholat asar, kemudian ke rumah abangnya Jaka untuk mengambil kereta, kemudian menuju rumah Firdaus untuk agenda bakar-bakar menyan, eh maksudnya bakar-bakar ayam. (wkwkkw). Kemudian Jaka balik ke rumahnya (dia orang langkat). Yang lainnya nginap di rumah saya. Hal luar biasanya itu, di tengah perjalanan kami disambut hujan, kemudian entah di jalan mana, kami disambut banjir, sampe ada kereta yang mogok (hadeh ...) repot kali la pokoknya. Kemarin itu perjalanan paling lama dari Medan ke Binjai, coba kamu bayangin saja, yang biasanya hanya memakan waktu dua jam empat puluh menit. Eh malah entah berapa jam kami baru sampe Binjai. Kami berangkat 16.30 dan sampai ke rumah saya pukul 20.30 an kayaknya. Duh! Serasa Binjai itu jauh kali lah. (wkkwkw).

Apa lagi ya, wkwk. Selesai bakar-bakar, kami tidur, bangun pagi, beres-beres, dan saatnya go ke tujuan. Kemana tujuan kami? Ke Air Terjun Tongkat!
Singkat cerita, kami pun dalam perjalanan menuju Air Terjun Tongkat. Masih di awal jalan, udah ketemu sama guide (pemandu), lakukan nego-nego, dan akhirnya oke. Masing-masing kena 30 ribu perkepala, udah bebas parkir dan segala macamnya. Itu 30 rb untuk dua lokasi, yaitu air terjun tongkat dan kolam abadi.
Lupa ngitung berapa lama perjalanannya, tapi dari Binjai ke lokasi kayaknya makan waktu 2 jam juga. Nah, dari pos ke lokasi jalan kaki, lumayan gempor juga, agak terjal juga, ada kenak 30 menit juga kayaknya (sorry, lupa ngitung, wkwk).

Apa lagi ya yang mau diceritain? (wkwkwk, aku bingung)

Akhirnya, sampailah kami di air terjun tongkat, ya biasalah, foto-foto, mandi-mandi, gaya-gaya, entah segala macam gaya dibuat di sana. Wkwk. (foto menyusul di bawah ya. Haha.)
Enaknya itu, di sana agak sunyi, gak terlalu rame, lumayan nyamanlah. Pokoknya mandi-mandi puaslah, dinginnya itu loh brr ..

Lanjut, pukul 14.30 waktu setempat, kami balik ke atas. Perjalanan ke atas ini yang bikin males, ngebayangin jalan ke atasnya itu loh, bikin males, kalau ada gojek, kami sewa dah itu gojek, wkwkwk.
Dan kami agak ketipu sebenarnya (wkwk), kata pemadunya kolam abadi itu yang sungai kecil yang dilewati pas menuju air terjun tongkat. (ya ampun, dia bohongin kami, itu bukan kolam abadi setahu kami, dan pas udah balik, kami lihat fotonya beda kok, hadeh ... tapi yasudahlah, besok-besok kami blacklist kalian, haha.)

Apa lagilah yang mau aku ceritakan ya? (wkwkwk, aku bingung)

Kami balik ke Binjai (ke rumah saya) – di pertengahan jalan ada yang nyasar (colek Septian dkk. wkwkwk). Balik ke Medan hujan-hujanan, macet, banjir, ribetlah pokoknya, baju basah semua, sampai kost (rumah Madani) ternyata ada asbes yang bocor, lumayan berisilah rumahnya dengan beberapa butir air (wkwk). Udah capek, sampek Madani rencana mau tidur langsung, eh taunya ada tugas ngepel lagi, (wkwkwk).

Itulah sekelumit perjalanan kami. Datang ke Binjai di sambut hujan, pulang ke Medan dihantarkan dengan suasana hujan. Dan fasilitas keduanya memberikan banjir dan macet yang luar membinasakan (wkwkkw).

Sekian dan terima kasih udah mau baca tulisan acak kadul ini sampai habis, hahaha.

Btw, kawan-kawan kostan udah aku bawa ke rumah. Nanti gilaran kamu aku bawa ke rumah ya. #Eh (wkkwk).

Sekian dan salam #anakKost

Sekilas info, untuk tahun ajaran baru, Rumah Madani open recruitmen untuk 2-3 orang. Bagi kamu yang ingin bergabung di keluarga Madani, sok hubungi saya. Syarat pria muslim. (ada seleksinya loh, wkwk)

*foto-foto (inilah ala kadarnya foto-foto kami yang gaje wkwk)

Setelah terlepas dari macet dan banjir *sengaja dibuat terbalik (wkwk)

[masih] setelah terlepas dari macet dan banjir

prosesi bakar membakar (haha)

masih bakar membakar

memakan apa yang sudah dibakar (haha)

foto kedua setelah lepas dari banjir dan macet



masih memakan apa yang sudah dibakar

entah apalah, pokoknya foto, wkwk

di air terjun tongkat

masih di air terjun

lagi-lagi di air terjun

penampakan (wkwk)

kembali ke bakar-bakar (wkwk)

masih bakar-bakar (wkwkw)

entah apa, wkwk, gaje

[Cara Tepat] memilih Organisasi


Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan orang lain untuk kebermaknaan hidupnya. Salah satu cara manusia untuk berinteraksi dengan orang banyak yaitu dengan tergabung di sebuah organisasi. Kamu tidak perlu khawatir membaca tulisan ini, sebab dalam tulisan ini tidak akan ada unsur yang menyuruh kamu memilih antara Akademik dengan Organisasi. Bagi saya, itu kedua hal yang berbeda, walaupun memiliki keterikatan. Tapi kedua hal tersebut tidak selalu berbanding terbalik. Misalnya, aktif di organisasi, maka akademik akan turun. Dan jika aktif mengejar akademik, maka tidak bisa aktif di organisasi. Saya pikir itu masalah klasik. Gak perlu diperdebatkan lagi. Udah 2017 ini, Bro! wkwk.
Beberapa orang berpikir bahwa organisasi itu tidak penting. Bahkan ada beberapa diantaranya membenci organisasi. Dalam benaknya, organisasi itu hanya jubah untuk menutupi beberapa perbuatan kotor. Dengan lantang mereka mengatakan, “Aku tidak suka organisasi!”
Padahal kalau ditelusuri dan mencoba mengambil sudut pandang lain. Setiap manusia memiliki dan termasuk ke dalam sebuah organisasi sejak ia dilahirkan ke dunia ini.
Menurut saya, keluarga adalah contoh organisasi terkecil. Ayah merupakan kepala keluarga, sebagai ketua organisasi. Ibu adalah tangan kanan atau bisa disebut sekretaris sekaligus bendahara keuangan. Dan anak-anak adalah anggotanya. Dan anak-anak sebagai anggota, dia akan tumbuh dan berkembang di dalam naungan keluarga tersebut.

Setiap organisasi memiliki aturannya masing-masing. Begitujuga dengan keluarga. Aturan di keluarga A dengan aturan di keluarga B belum tentu sama. Apa yang dimiliki keluarga A belum tentu dimiliki oleh keluarga B. Apa yang bisa dilakukan oleh keluarga A belum tentu bisa dilakukan oleh keluarga B.

Sewaktu kecil kita sering berpikir, kenapa aku dilahirkan di keluarga seperti ini? Kadang kita ingin sekali dilahirkan di keluarga seperti keluarga teman kita. Alasan sederhananya, bisa jadi kawan kita itu lebih banyak uang jajannya dibanding kita. Sehingga terbersit keinginan untuk terlahir dari ibu yang memberi uang jajan banyak kepada anaknya.
Namun sayangnya, kita tidak bisa melakukan itu. Suka tidak suka, kita tetap harus hidup di bawah naungan Ibu yang telah melahirkan kita.

Bagaimana dengan organisasi?
Untuk organisasi, kamu memiliki kebebasan untuk memilih masuk ke organisasi manapun. Tidak ada yang melarang ataupun memaksa kamu untuk memasuki organisasi tertentu.
Dan ternyata, kebebasan tersebut memiliki resiko yang besar. Jika kamu salah memasuki sebuah organisasi. Maka, arah jalan hidupmu bisa berubah total. Yang awalnya kamu mengimpikan A, namun setelah memasuki organisasi kamu malah mengimpikan B, bahkan bisa jadi kamu membenci orang-orang yang mengimpikan A.
Lantas, bagaimana cara tepat memilih organisasi?
1.    Kenali latar belakang terbentuknya organisasi
2.    Kenali visi misi organisasi
3.    Kenali orang-orang yang terlebih dahulu bergabung di organisasi tersebut
4.    Sesuaikan bakat dan minat kamu dengan organisasi
5.    Pilih organisasi yang akan menunjang kemampuan di dalam bidang yang kamu geluti
Kelima point di atas penting untuk kita ketahui sebelum berpikir untuk berkontribusi di sebuah organisasi. Dan untuk menjawab kelima point di atas bisa diperoleh dengan mudah melalui akses internet ataupun dengan diskusi dengan orang-orang yang masih aktif di organisasi tersebut.


Selamat berburu organisasi, Kawan!

:: Bonus ::

Karena kebetulan saya mahasiswa Unimed. Saya merekomendasikan sebuah organisasi yang memiliki banyak sekali kelebihan. Organisasi ini terlihat fokus ke bidang A, tapi ternyata melalui organisasi ini kadernya berprestasi di bidang B. Unik bukan?

Untuk latar belakang, visi misi dan alumni organisasi yang akan saya ceritakan, silahkan kamu googling sendiri ya. (Hehe)

Sedikit mengupas organisasi ini, di organisasi ini ada beberapa departemen. Saya akan menyebutkan tiga saja. Untuk lebihnya silahkan survey lapangan ya. Haha.

1. Departemen Pemberdayaan Perempuan
Mengapa saya mengenalkan departemen ini terlebih dahulu. Sebab, pengaruh wanita untuk kemajuan peradaban sangat besar. Sebab ibu adalah sekolah pertama bagi setiap orang. Nah, bagi kamu para perempuan kampus Unimed. Yang ingin mengasah ketrampilan di bidang keperempuanan. Kamu bisa mengasahnya di departemen ini. Melalui departemen ini kamu bisa membuat sesuatu yang bombastis untuk kemajuan para perempuan di Unimed. Saya tidak bisa menjelaskan secara rinci. Sebab saya tidak pernah dan tidak bisa masuk ke departement tersebut. Sebab, hanya seorang perempuan tulen yang boleh memasuki dan berkarya di departemen tersebut.

2. Departemen Kebijakan Publik
Bagi kamu yang suka mengamati kebijakan di dalam negeri ini. Eh, gak usah jauh-jauh deng. Bagi kamu yang suka melirik kebijakan yang berlaku di kampus. Kamu bisa belajar banyak di departemen ini. Departemen yang disingkat menjadi DKP, mereka sering kali mengadakan bincang-bincang mahasiswa untuk mendiskusikan sebuah kebijakan. Baik bincang-bincang dengan sesama internal, maupun dengan organisasi lain. Dijamin deh kamu gak akan kudet dengan berbagai kebijakan baru baik di negara ini ataupun di kampus jika kamu tergabung di DKP.

3. Departemen Hubungan Masyarakat (Dept. Humas)
Kurang percaya diri berbicara di depan umum? Bergabung di departemen Humas akan mengasah softskill kamu dalam menyampaikan dan merespon sebuah informasi. Selain mengasah kemampuan dalam berbicara, kamu juga akan diasah dalam ketrampilan menulis. Sebab, informasi tidak hanya disampaikan melalui lisan saja kan? Setahu saya, setiap tahun, departemen ini wajib mengadakan Training Kehumasan dan Jurnalistik.

Organisasi tersebut bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, atau disingkat KAMMI.

Jangan heran dan bingung. Beberapa orang mungkin berpikir, "itukan organisasi keagamaan. Masa sih di dalam organisasi seperti itu ada pengembangan bakat anggotanya seperti itu. Gak masuk akal ah! Harusnya organisasi seperti itu khusus ke dalam kajian keislaman saja. Masa organisasi keislaman mengadakan Training Kehumasan dan Jurnalistik. Sudah macam organisasi pers mahasiswa saja. Gak nyambung ah!"

Ijinkan saya tertawa sebentar ya (wkwkwk)

KAMMI memang organisasi keagamaan, yaitu Islam. Saya tidak perlu menceritakan aktivitas kajian keislaman dan pembinaan keislaman di KAMMI. Sebab memang itulah identitas utama organisasi tersebut. Jika kader/anggota organisasi keagamaan ahli dalam bidang keagamaan, itu mah wajar, biasa, dan memang harus seperti itu. Tapi jika ada kader organisasi pers seorang ahli agama, jago ekonomi, dan melek dengan kebijakan baru. Itu baru luar biasa.

Seperti itulah KAMMI. Kadernya tidak hanya dibentuk dalam pembinaan keagamaan Islam. Namun juga dibentuk untuk mengembangkan minat dan bakat yang ada di dalam dirinya. Contohnya, di bidang kepemimpinan, bidang  keperempuanan, bidang ekonomi dan banyak lagi. Silahkan lakukan survey lapangan, biar lebih greget!

Masih ragu untuk bergabung, berkontribusi dan mengasah ketrampilan di KAMMI?

Salam Muslim Negarawan!